Air Mata Rasulullah….. (menyambut Bulan Ramadhan)
September 9th, 2007 by olimTiba-tiba dari luar pintu terdengar
seorang yang berseru mengucapkan
salam. "Bolehkah saya masuk?"
tanyanya. Tapi Fatimah tidak
mengizinkannya masuk, "Maafkanlah,
ayahku sedang demam," kata
Fatimah yang membalikkan badan dan
menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya
yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu
wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya
baru sekali ini aku melihatnya," tutur
Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu
dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian
wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan
kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut," kata
Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri,
tapi Rasulullah menanyakan kenapa
Jibril tidak ikut bersama menyertainya.
Kemudian dipanggillah Jibril yang
sebelumnya sudah bersiap di atas langit
dunia menyambut ruh kekasih Allah dan
penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di
hadapan Allah?" Tanya Rasululllah
dengan suara
yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka,
para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu, " kata
Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan
Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar
ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib
umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah,
aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: ‘Kuharamkan surga
bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad
telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya
Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah
bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut
ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah
terpejam, Ali yang di sampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada Malaikat
pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih
Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit yang tidak
tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini,
timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku.
"Badan Rasulullah mulai dingin, kaki
dan
dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikkan sesuatu, Ali segera
mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis-shalaati, wa maa
malakat aimaanukum - peliharalah
shalat dan peliharalah orang-orang
lemah di antaramu.
" Diluar, pintu tangis mulai terdengar
bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya,
dan Ali kembali mendekatkan
telinganya ke bibir Rasulullah yang
mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii!" -
"Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia
yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai
sepertinya?
Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa
baarik wa sallim ‘alaihi.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Thanx to Titin yang udah ngingetin lagi cerita ini..